cyanism

Thursday, July 28, 2005

gantungkan setinggi bintang kejora


Dahulu pada saat masih mengenakan rok kotak-kotak merah di bilangan Wolter Monginsidi, hanya satu keinginan saya : jadi dokter hewan. Atau mungkin jadi detektif karena kecintaan yang mendalam pada Papa Poirot. Rasanya setiap mengisi "buku kenangan" pasti saya tulis sekitar itu ( ada yang masih punya buku kenangan yang saya isi?).
Berubah pada saat penjurusan SMA, dengan rok kotak-kotak yang sama tapi beda model. Saya masih ingat almarhun Pak Pram, guru matematika bertanya, " Kamu mau masuk A berapa? nilai-nilai mata pelajaran eksaktamu kurang untuk masuk A1 atau A2, mau masuk A3? Nanti perlu perbaikan buat matematika". Saya yang keras kepala, cuma berminat masuk A2 (terus jadi dokter) atau A4 (terus jadi desainer). Cukup jelas, saya memilih masuk A4, budaya.
Kemudian perjalanan hidup mengalir sedikit terantuk kerikil dan lahar beberapa kali. Selama darah masih mengalir, jantung masih berdegup, saya jalan terus.
Sepanjang jalan, ternyata mengajar adalah hal yang tidak terbayar. Begitu menyenangkan membimbing anak-anak atau orang lain. Maka hasrat untuk menjadi dosen,merupakan ambisi yang ingin benar diwujudkan.
Seminggu yang lalu, seorang rekan kerja bertanya:
"sebenernya apa sih cita-cita lo?".
DANG
langsung saya flashback ke tahun 1996, ketika belajar menggambar suasana di suatu aula SD di Bandung (apa kabar anak-anak Spektra?). Ketika diminta menggambar cita-cita...kira-kira gambarnya seperti itu.
indah sekali..mengurus suami dan anak-anak...bisa berkarya..kadang-kadang berpameran...beberapa kali seminggu mengajar....bisa latihan capoeira.....
ah
impian

Friday, July 15, 2005

is a 4 letter word

Image hosted by Photobucket.com

Monday, July 11, 2005

hey you,dark and lovely over there

Hellow rainbow!
It's been 9 years
since your glimmering light become visible
yet
I've never has any guts to touch your tail
just flabbergasted by those colors
oh
such a pathetic creature this cyan is

Monday, July 04, 2005

babianbiru here!

Bagaimana Anda menjawab telefoon?
Beberapa tahun terakhir ini teman saya semakin beragam latar belakang. Masing-masing memiliki gaya mengangkat telpon yg berbeda.Tergantung lokasi, kultur dan kebiasaan.
Lokasi.
seorang teman menjawab telp dengan "Olyviardy!"( nama belakangnya) ketika berada di Jerman, Jakarta atau negara eropa. Sekarang di Inggris dia menjawab dengan "Olyviardy speaking". Di kantor, saya menjawab telp dengan "Yayasan Cinta Anak Bangsa, ada yang bisa saya bantu?", jika menjaga jalur konseling. Ketika bebas tugas : " Meja Bos Ebi di sini...".
Karakter ini Image hosted by Photobucket.com membuat saya berpikir, kebiasaan di Amerika sama dengan di Eropa.

Kultur.
Seorang kawan berkebangsaan Brazil menjawab telp dengan "alo!". Mirip dengan di sini,kita menjawab dengan "halo". Mungkin karena sama-sama dari negara beriklim panas? Jadi lebih santai perwatakannya. Setahu saya orang Prancis juga menjawab dengan "Allo?".Untuk orang yang biasa menggunakan bahasa mandarin dalam keseharian,biasa menjawab dengan,"Weei,ping ko?" (halo,siapa itu?).

Kebiasaan.
Mungkin lebih tepat : tergantung orang yang menelfon (caller ID : kemajuan teknologi yang amat berguna). Ada teman yang mengangkat telp dengan : "Ape Loe??". Pertama terdengar kasar, sekarang saya sudah mulai terbiasa. Ada juga yang menjawab dengan ," Apa sayanggg?". terutama jika dihubungi pacar/pasangan. Atau sapaan mesra lain seperti , "Yes honey?". Saya sempat menjawab telp dengan pendek : "ya?" atau "lo?", biar ringkas, cepat dan nggak buang-buang pulsa.
hmmm....ganti ah dengan ini :
Image hosted by Photobucket.com

Bakal lebih afdol lagi jika tabungan saya sudah cukup untuk membeli ponsel idaman :
Image hosted by Photobucket.com
psssssttt... Oom Grissom pake ini juga lho! Kerennya POLLL



adopt your own virtual pet!